Home » Iwan Bomba: Berhasil Tekuni Bisnis Bonsai

Iwan Bomba: Berhasil Tekuni Bisnis Bonsai

by Dores Sebastian

Intensitas, kerja keras serta support keluarga. Ketiganya jadi kunci keberhasilan Iwan Bomba yang berumur 38 tahun mengelola usaha bisnis bonsai miliknya. Bermula dari iseng, saat ini masyarakat Dusun Kaliurang, Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan, itu berhasil meraup untung puluhan juta dari usaha bonsai yang dikelolanya.

Lebat tumbuhan tembakau menghiasi suatu areal persawahan di Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Di suatu rumah pas di depan areal persawahan itu, berjejer tumbuhan dengan format unik. Terdapat yang besar, terdapat yang tanggung serta terdapat yang berdimensi kecil.

Unik karena batang tumbuhan mendominasi. Kemudian, cabang tumbuhan cuma sedikit. Itu malah cuma di bagian atas. Serta bagian daun jumlahnya jauh lebih sedikit. Formatnya tidak beraturan, melainkan indah diamati. Seperti itu bonsai kepunyaan Iwan Bomba, 38, masyarakat Dusun Kaliurang, Desa Sokaan.

Bonsai- bonsai itu berjejer di taman rumahnya. Tidak semata- mata jadi pajangan pasti saja. Iwan- panggilannya- menjadikan seni mengkerdilkan tumbuhan itu selaku usaha keluarga.

“ Dahulu aku tidak dapat membuat figur tumbuhan semacam ini. Setelah itu saya terus belajar lewat media sosial. Saya pula belajar dari pengalaman teman- sahabat yang lebih dahulu menjaga bonsai,” tutur Iwan Bomba sembari menunjuk suatu bonsai dari tumbuhan Serut.

Awal mulanya Hanya Iseng

Dini menekuni bonsai 2 tahun kemudian, Iwan sesungguhnya hanya iseng. Dia coba- coba menjaga serut buat dijadikan bonsai. Serut diseleksi sebab ialah salah satu jenis bonsai yang sangat digemari. Setelah jadi, bonsai serut itu mendadak dipasarkannya.

“ Teruji kok hasilnya cukup,” tuturnya.

Dari sana, Iwan Bomba mendadak berupaya membikin lebih banyak bonsai. Berbagai tumbuhan yang terbuat bonsai malahan kian bermacam- macam. Saat ini, puluhan bonsai terdapat di taman rumahnya yang diambil dari 5 alterasi tumbuhan. Antara lain, serut, beringin, asam, santigi serta tumbuhan arah. Harga jualnya juga cukup, dekat Rp15 juta sangat mahal.

“ Dikala ini sangat mahal bonsai aku laku Rp15 juta. Dalam satu bulan, rata- rata Rp30 juta hingga Rp40 juta,” ucapnya sembari memotong sebagian komponen bisnis bonsai beringin dengan hati- hati.

Pemasarannya apalagi tidak cuma di Probolinggo. Tetapi, hingga ke sebagian tempat yang terdapat di Indonesia. Semacam Sumatera, Kalimantan, Bali, Sumbawa, NTB, serta Papua.

Lazimnya, bonsai itu dikirim lewat pos dengan lebih dahulu dibungkus kardus. Tidak heran, puluhan kardus berjejer apik di ruang tetamu rumahnya. Sebagian bonsai malahan terdapat yang telah dibungkus buat dikirim ke luar Jawa.

“ Aku menjual melalui online, dengan modal keyakinan. Umumnya pembeli aku temukan dari tim WhatsApp yang berisi para pebisnis bonsai seluruh,” ucap bapak 2 buah hati ini.

Intensitas serta Kerja Keras Jadi Kunci Utama

Sepanjang mengelola usaha bonsainya, Iwan mengaku, intensitas serta kerja keras jadi kunci utama. Tanpa keduanya, usahanya itu sulit tumbuh. Karena, di balik duit jutaan rupiah yang ia temukan dari memasarkan bonsai, terdapat pengorbanan yang kadangkala tidak tidak sering mengecam nyawa.

“ Sebab tidak sembarang tumbuhan dapat dihasilkan bonsai. Kala bahan baku sudah tidak terdapat, saya mencari ke Probolinggo bagian selatan. Mencari ke gunung- gunung yang masih terdapat alterasi tumbuhan bonsai,” tuturnya.

Serta perlu usaha tidak gampang buat menjangkau gunung- gunung itu. Panas terik ataupun dingin menggigil dihempasnya. Hujan rimbun dengan suasana jalur licin malah dilewatinya.

“ Kala hujan, jalur mengarah gunung jadi licin. Serta itu membahayakan,” tuturnya.

Motivasi dari keluarga kecilnya membikin dirinya pantang menyerah. Terutamanya lagi pada masa pandemi Covid- 19 ini, bisnisnya pernah tidak jalur. Karena, akses pengiriman benda ditutup.

“ Maret hingga Mei, tidak terdapat sama sekali bisnis bonsai yang terjual. Jadi, aku kembali bertani serta jadi buruh tani buat penuhi keperluan keluarga. Dalam kondisi semacam itu, sokongan keluarga yang membuat saya terus gigih,” ucapnya.

Related Posts

Leave a Comment