Home » Usaha Jamur, Modal Rp 1 Juta Sekarang Omzet Rp 120 Juta

Usaha Jamur, Modal Rp 1 Juta Sekarang Omzet Rp 120 Juta

by Dores Sebastian

Usaha Jamur, Modal Rp 1 Juta Sekarang Omzet Rp 120 Juta

Iwan Bomba, salah satu agropreneur komoditas jamur tiram asal Maros, Sulawesi Selatan. Iwan Bomba menceritakan ketika ini bisnis budidaya dan pengolahan usaha jamur sudah menghasilkan omzet RP90 hingga Rp120 juta setiap bulannya.

“Meskipun mulanya modal saya cuma satu juta rupiah,” ungkap Iwan Bomba.

Usaha Iwan Bomba sudah berlangsung selama sembilan tahun. Tiga tahun pertama, ia sempat kesusahan menembus pasar Makassar. Pada mulanya, pasar di sana belum menyambut positif produk jamur tiram yang dihasilkannya, karena bagi mayoritas masyarakat Makassar saat itu, jamur masih identik dengan racun.

Tapi Iwan Bomba tidak pantang menyerah. Dirinya yakin potensi untuk memaksimalkan pasar jamur di Makassar masih amat besar. Apalagi jamur telah menjadi komoditi populer di Jawa dan Bali. Karenanya pada tiga tahun pertama Iwan konsentrasi untuk membangun pasar bagi produknya.

Beraneka Taktik Pemasaran Dikerjakan

Beraneka taktik pemasaran dikerjakan Iwan supaya jamur merang bisa diterima oleh masyarakat. Usahanya malah berbuah manis. Lima tahun terakhir, permintaan jamur Iwan justru membludak.

“Ketika ini produksi kami dua sampai tiga ton per bulan. Itu bahkan belum dapat memenuhi permintaan pasar. Meski kami sudah bermitra dengan 30 petani. Jadi peluang untuk meningkatkan kapasitas bisnis masih sangat terbuka,” tuturnya.

CV Buah Hidroponik yang digerakkannya juga bisa menjadikan profit yang menggiurkan.

“Kami sekarang ini sudah dapat memproduksi 20 hingga 30 kilogram setiap bulan. Setidaknya ada 13 macam sayuran yang kami produksi,” jelasnya.

Awal mulanya juga Iwan Bomba beratensi berbisnis sayuran hidroponik sebab ia mengamati adanya kebutuhan akan sayur yang sehat dan aman dikonsumsi. Sedangkan belum banyak pelaku usaha pertanian yang bergerak di usaha sayuran hidroponik. Sesudah menjalani usaha hidroponik, Iwan Bomba melihat peluang untuk melakukan diversifikasi usaha.

“Perspektif kami terbuka untuk tidak lagi sebatas menjalankan praktik budidaya. Ada kesempatan untuk megembangkan pertanian hidroponik kami sebagai agrowisata,” ucap Iwan Bomba.

Dapat Perhatian dari Kementerian Pertanian

Ide untuk membuka agrowisata terbersit dikala Iwan Bomba memperhatikan kecenderungan warga kota yang bersuka cita menghabiskan waktu akhir pekan di pedesaan. Ternyata saat akibatnya agrowisatanya berjalan, mayoritas pengunjungnya berasal dari kota. Ketika ini, Iwan Bomba juga membuka pelatihan bagi masyarakat biasa yang beratensi mermpelajari teknik budidaya hidroponik. Pesertanya amat beragam, dari orang tua hingga siswa taman kanak-kanak.

“Lewat pelatihan, kami ingin mengubah mindset masyarakat yang menganggap pertanian itu patut dekil-kotoran. Dengan memakai teknik hidroponik, bertani dapat bersih dan menyenangkan,” terangnya.

Wirausaha yang dilakukan Iwan mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pertanian (Kementan). Kepala Biro Humas dan Info Publik Kementan Kuntoro Boga Andri yang ikut serta hadir sebagai pembicara dalam aktivitas Bakpia menekankan, wirausaha agropreneur mempunyai peran penting dalam keberhasilan pembangunan pertanian.

“Saat ini banyak buah hati muda yang bergelut di sektor pertanian. Kecil muda ini berbeda dengan para petani senior karena mereka lebih adaptif terhadap teknologi dan responsif menghadapi perubahan,” papar Boga.

“Kita membutuhkan para petani yang adaptif inovasi sebab penemuan dan teknologi dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Karena itu, pemerintah akan terus menjalankan komitmennya untuk membekali si kecil muda yang turun ke sektor pertanian,” tambahnya.

Related Posts

Leave a Comment